Adalah api abadi di sebuah kompleks yang terletak di desa Manggarmas, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. api abadi ini merupakan sumber api yang ditemukan oleh rombongan Sunan Kalijaga. Kala itu rombongan sedang memboyong Kerajaan Majapahit seusai ditaklukan oleh Kerajaan Demak pada masa kepemimpinan Raden Patah.
Dalam perjalanan menuju Kerajaan Demak, rombongan Sunan Kalijaga menyempatkan beristirahat di sebuah hutan yang kini menjadi Desa Manggarmas karena waktu sudah malam. Di lokasi inilah sejumlah keris pusaka dibuat dengan menggunakan sumber api dari dalam tanah yang menyembur dengan landasan watu bobot.api yang tidak pernah padam walaupun turun hujan sekalipun. Selain api abadi, di komplek tersebut juga terdapat kolam dengan air mendidih yang konon dulu digunakan Empu Supo mendinginkan material keris saat masih panas ketika selesai di tempa.
Terletak pada komplek Abadi Mrapen yakni di Desa Manggarmas, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Batu Bobot sendiri merupakan batu peninggalan Sunan Kalijaga pada abad ke-15 M dengan berat kurang lebih 20 kg. Dikisahkan jika pada awalnya Batu Bobot merupakan benda yang berupa “umpak” tiang bangunan Kerajaan Majapahit yang dibawa oleh Sunan Kalijaga dan rombongan sepulang kunjungan dari Kerajaan Majapahit.
Batu Bobot ditinggalkan di daerah Mrapen karena rombongan kelelahan membawa batu ini. Batu ini kondisinya pecah karena ada orang yang memaksa untuk mengangkatnya. Dalam kondisi yang pecah, Batu Bobot digunakan oleh Empu Supo sebagai landasan untuk membuat keris.
Sebuah batu di Dusun Sepi, Desa Barepan, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, diyakini sebagai bekas tempat Sunan Kalijaga menunaikan salat. Sampai kini batu tersebut masih terawat dan sering didatangi masyarakat. Batu yang diyakini masyarakat sebagai petilasan sujud Sunan Kalijaga itu berupa batu kapur putih kecoklatan.
Panjang batu itu sekitar 1,5 meter, bentuknya datar cenderung elips. Di bagian ujung batu itu terdapat cekungan sedikit rata dan di belakangnya terdapat garis benjolan. Di belakang garis batu yang menonjol ke permukaan itu terdapat lagi batu yang permukaan cenderung datar. Pada permukaan batu kedua itu terdapat rongga dan cekungan yang menyerupai bekas tapak kaki. Sedangkan di bagian paling bawah, terdapat sebongkah batu lagi yang berlubang. Batu tersebut terpisah dari batu datar di depannya. Batu-batu tersebut dikelilingi tembok setinggi sekitar 2 meter, lengkap dengan pintu masuk dan keluar.
Gong ini berasal dari masa Sunan Kalijaga. Dulu diperuntukkan untuk pementasan gamelan Sunda.
Salah satu bagian yang paling sakral adalah sumur yang sekaligus jadi tempat berwudhu. Sumur ini terletak di beranda bagian utara Masjid Agung Cirebon. Namanya adalah Banyu Cis Sang Cipta Rasa.
Bentuknya memang tak seperti sumur, melainkan dua buah kolam yang masing-masing berbentuk bulat. Dulu, dua kolam ini merupakan tempat wudhu para Wali Songo termasuk Sunan Kalijaga dan Sunan Gunung Jati.
Air dari sumur ini konon sama murninya dengan air zam-zam dari Arab Saudi. Air dari sumur ini diyakini berkhasiat untuk mengobati berbagai penyakit, serta memelihara kesehatan. Tak heran sumur ini dikeramatkan oleh warga Cirebon, terdapat pagar pendek yang mengelilingi dua kolam tersebut.
Tidak jauh dari masjid Sunan Kalijaga di Kadilangu, Demak , terdapat sebuah sumur tua. Sumur itu tepatnya terletak di belakang masjid Sunan Kalijaga. Sumur itu semasa Wali Sanga sering dimanfaatkan untuk berwudu.
Bukit Surowiti yang terletak di Desa Surowiti, Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik, merupakan petilasan pertapaan Sunan Kalijaga. Bukit Surowiti memiliki ketinggian 260 meter diatas permukaan laut (mdpl) dan berjarak ±40 km dari kota Gresik melalui Jalur pantura Gresik-Tuban atau ±3 km dari Jalan Raya Panceng.Di kaki bukit Surowiti terdapat sebuah telaga dan pada tepinya ditumbuhi rumpun bambu.